Tampilkan postingan dengan label LKS KIMIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LKS KIMIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Maret 2010

PRAKTIKUM KIMIA X

REAKSI REDOKS I (KELAS X)
Tujuan : mempelajari beberapa reaksi redoks yang berlangsung dalam suasana asam, basa atau netral.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah
Tabung reaksi/rak tabung - 3/1
Pipet tetes Panjang 8
Larutan KMnO4 0,1 M 3 ml
Larutan Asam oksalat (H2C2O4)
0,1 M
3 ml
Larutan Formaldehid
5%
1 ml
Larutan Na2S2O3
0,1 M
3 ml
Larutan Iodin (I2)
0,1 M
3 ml
Larutan AgNO3
0,1 M
3 ml
Larutan Amonia (NH3)
1 M
3 ml
Larutan H2SO4
4 M
3 ml
Cara Kerja :
  1. Masukkan ± 3ml larutan Asam oksalat (H2C2O4) o,1 M ke dalam sebuah tabung reaksi, tambahkan ± 3 ml H2SO4 4 M. Kemudian tambahkan 1 tetes larutan KMnO4. Aduk campuran itu dengan mengguncangkan tabung. Tunggu sampai terjadi perunahan warna, kemudian tambahkan lagi 1 tetes larutan KMnO4. Lanjutkan penetesan larutan KMnO4 sampai tidak terjadi perubahan warna.
  2. Masukkan ± 3 ml larutan AgNO3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tetesi larutan itu dengan larutan NH3 1 M tetes demi tetes sampai endapan yang mula-mula terbentuk larut kembali. Kemudian tambahkan ± 1 ml larutan Formaldehid 5%. Aduk campuran dengan mengguncangkan tabung kemudian diamkan. Kemudian catat pengamatan Anda.
  3. Masukkan ± 3 ml Na2S2O3 ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes larutan kanji. Kemudian tetesi dengan larutan Iodin (I2) tetes demi tetes hingga campuran berwarna biru ungu (warna biru ungu menunjukkan bahwa Na2S2O3 telah habis bereaksi).
Hasil Pengamatan :
  1. Warna H2C2O4 + larutan H2SO4 → putih (bening).
Warna larutan KMnO4 → ungu.
Warna larutan H2C2O4 + KMnO4 setelah ditetesi larutan KMnO4 → putih.
  1. Warna larutan AgNO3 → bening.
Larutan AgNO3 ditetesi larutan NH3 → keruh (abu-abu).
Larutan AgNO3 + larutan NH3 setelah dicampur dengan larutan Formaldehid → hitam.
2. Warna larutan Na2S2O3 → bening.
Larutan Na2S2O3 + larutan kanji setelah ditetesi larutan I2 → biru ungu.
Reaksi Ionisasi :
  1. 2 KMnO4 + 3 H2SO4 + 5 H2C2O3 → 2 MnSO4 + K2SO4 + 10 CO2 + 8 H2O
  2. AgNO3 + NH3 + H2O → Ag2O + 4 NH3 + H2O
Ag2O + 4 NH3 + H2O → 2 {Ag(NH3)2} OH
  1. 2 Na2S2O3 + I2 → Na2S4O6 + 2 NaI
  • Larutan menjadi berwarna biru ungu karena molekul-molekul pati pada kanji mengandung lebih banyak amilosa daripada amilopektin.
  • Larutan Na2S2O3 berfungsi untuk melarutkan I2. Setelah bereaksi dengan Na2S2O3 menjadi 2 NaI.
Kesimpulan :
Larutan yang mengalami perubahan warna seperti larutan di atas merupakan contoh suatu reaksi redoks. Dalam reaksi redoks larutan itu akan bereaksi dengan larutan lain (adanya perubahan warna), seperti pada:
  1. Larutan H2C2O4 + H2SO4 setelah ditetesi KMnO4 → putih.
  2. Larutan AgNO3 + NH3 + larutan Formaldehid → hitam, silver, membentuk lapisan kaca.
  3. Larutan Na2S2O3 + larutan kanji setelah ditetesi larutan I2 → biru ungu.
REAKSI REDOKS II (KELAS X)

Tujuan : Mengetahui reaksi redoks pada beberapa logam dengan larutan.
Alat dan Bahan :
  1. Gelas kimia 250 ml.
  2. Logam seng.
  3. Paku besi.
  4. Larutan CuSO4 1 M.
Cara Kerja :
  1. Siapkan alat dan bahan.
  2. Masukkan larutan CuSO4 sebanyak 100 ml ke dalam gelas kimia 250 ml.
  3. Siapkan sepotong logam seng berukuran ± 4×2 cm yang telah diamplas bersih. Kemudian masukkan ke dalam larutan CuSO4.
  4. Amati perubahan yang terjadi.
  5. Lakukan kembali percobaan seperti di atas dengan menggunakan logam besi.
Pengamatan :
  1. Seng yang berada di dalam larutan CuSO4 berubah menjadi berkarat dan menjadi rapuh (rontok).
  2. Paku dalam larutan CuSO4 menjadi berkarat.
Kesimpulan :
Seng pada larutan CuSO4 menjadi berkarat, hal ini membuktikan adanya reaksi redoks. Begitu pula pada paku. Paku dan larutan CuSO4 mengalami reaksi redoks. Terbukti dari adanya perubahan biloks (reduksi/oksidasi) dan paku menjadi berkarat.
Daftar Pustaka
  • Wismono, Jaka. 2004. Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta: Ganeca Exact.
  • Sunaryani, Indah dkk. Bulletin Kimia. Semarang.

PRAKTIKUM KIMIA XII

TITIK BEKU LARUTAN (KELAS XII)

Tujuan : Untuk mengetahui titik beku beberapa larutan.

Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
1. Neraca 6. Air
2. Tabung reaksi 7. Es batu
3. Sendok 8. Urea 1 M dan 2 M
4. Pengaduk 9. Garam
5. Gelas kimia 10. NaCl 1 M dan 2 M
Cara Kerja :
  1. Masukkan butiran-butiran es batu dalam gelas kimia plastic sampai kira-kira ¾ nya. Tambahkan 4 sendok makan garam dapur. Aduk campuran ini dengan pengaduk. Campuran ini ada campuran pendingan.
  2. Isi tabung reaksi dengan air suling sebanyak 5 ml. Masukkan tabung ke dalam gelas kimia berisi campuran pendingin sambil mengaduk campuran pendingin sampai air membeku seluruhnya.
  3. Keluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin. Dengan hati-hati aduklah campuran dari tabung itu dengan menggunakan termometer secara naik turun. Bacalah termometer dan catat suhu campuran es dan air. Ulangi cara kerja 2 dan 3 dengan menggunakan larutan urea 1 M dan 2 M, larutan NaCl 1 M dan 2 M sebagai pengganti air suling.
Pengamatan :
Zat Tf °C Δ Tf °C
Air 2 0
Urea 1 M 0 2
Urea 2 M -2 4
NaCl 1 M -2 4
NaCl 2 M -5 7
Δ Tf = Tfp – Tfl
Dasar Teori :
Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 °C karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = freezing point depression). Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Pengamatan dan Perhitungan :
No. Zat Terlarut Titik Beku Perbedaan Titik Beku
Rumus Massa Mol Kemolaran Air Larutan
1. CO (NH2)2 180 3 1 0 0 2
2. CO (NH2)2 180 3 2 0 -2 4
3. NaCl 117 2 1 0 -2 4
4. NaCl 117 2 2 0 -5 7
Kesimpulan :
  1. Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi peristiwa perubahan wujud zat cair ke padat.
  2. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = Tfp – Tfl).
  3. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentarsi partikel dalam larutan.
  4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
  5. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan nonelektrolit.
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.



ELEKTROLISIS (KELAS XII)
Tujuan : Untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada elektrolisis larutan garam Natrium sulfat dan Kalium yodida.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah
Tabung U - 2
Elektroda karbon dan kabel 0,5 m 2/2
Baterai/catudaya 1,5 V 4/1
Jepit buaya - 4
Statif dan klem - 1/1
Tabung reaksi dan rak - 4/1
Pipet tetes - 1
Gelas kimia 100 cm3 3
Larutan Natrium sulfat 0,5 M 50 cm3
Larutan Kalium yodida 0,5 M 50 cm3
Fenoftalein - Sebotol
Indikator universal

Larutan kanji/amilum

Cara Kerja :
  1. Pasang alat elektrolisis.
  2. Elektrolisis larutan Na2SO4.
Tambahkan 10 tetes indikator universal ke dalam ± 50 cm3 larutan Na2SO4 dalam gelas kimia. Tuangkan larutan ini ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan elektroda karbon ke dalam masing-masing tabung U, dihubungkan kedua elektroda dengan sumber arus searah 6 V selama beberapa menit. Catat perubahan warna yang terjadi dalam kedua kaki tabung U itu.
  1. Elektrolisis larutan KI.
  2. Masukkan larutan KI ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan kedua elektroda karbon ke dalam masing-masing kaki tabung U dan hubungkan elektroda itu dengan sumber arus searah 6 V selama ± 5 menit. Catat perubahan yang terjadi  pada tiap-tiap elektroda.
  3. Keluarkan dengan hati-hati kedua elektroda, cium baunya dan catat.
  4. Pipet 2 cm3 larutan dari ruang katoda ke dalam 2 tabung reaksi tambahkan setetes penoftalein pada tabung 1 dan beberapa tetes larutan Amilum pada tabung 2.
  5. Ulangi cara kerja ini dengan larutan dari ruang anoda. Amati dan catat yang terjadi.
    1. Elektrolisis larutan Na2SO4.
Hasil larutan + indicator universal
  1. Sebelum dielektrolisis?
  2. Sesudah dielektrolisis
  • Pada ruang katoda?
  • Pada ruang anoda?
Pembahasan :
  1. Na2SO4 → 2 Na+ + SO42- + 10 tetes indikator universal
A (+)                : 2 H2O → 4 H+ + O2 + 4 e
K (-) : 2 H2O + 2 e → 2 OH- + H2
Na2SO4 + 6 H2O → 2 Na+ + SO42- + 4 H+ + 4 OH- + O2 + 2 H2
Katoda           : NaOH + gas H2
Anoda            : H2SO4 + gas O2
2. KI → K+ + I-
A (+)                : 2 I- → I2 + 2 e
K (-) : 2 H2O + 2 e → 2 OH- + H2
2 KI + 2 H2O → 2 K+ + I2 + 2 OH- + H2
2 KI + 2 H2O → 2 KOH + I2 + H2
Katoda           : KOH + gas H2

Dasar Teori :
Sel elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan. Sel elektrolisis terdiri dari sebuah electrode, elektrolit, dan sumber arus searah. Electron memasuki sel elektrolisis melelui kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katoda dan mengalami reduksi. Sedangkan spesi lain melepas electron di anoda dan mengalami oksidasi.
Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda, yaitu reduksi, dan reaksi anoda, yaitu oksidasi. Spesi yang terlibat dalam reaksi katoda dan anoda bergantung pada potensial elektroda dari spesi tersebut. Ketentuannya sebagai berikut.
  • Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang potensial reduksinya terbesar.
  • Spesi yang mengalami oksidasi di anoda adalah spesi yang potensial oksidasinya terbesar.
Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Elektrolisis larutan elektrolit.
  2. Elektrolisis larutan non elektrolit.
Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Elektroda inert/tidak aktif (elektroda karbon, platina, dan emas)
  2. Elektroda selain inert/aktif.
Kesimpulan :
  1. Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda (reduksi) dan reaksi anoda (oksidasi).
  2. Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektrolisis larutan elektrolit dan elektrolisis leburan elektrolit.
  3. Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektroda inert dan elektroda selain inert.
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
HALOGEN (KELAS XII)
Tujuan : Mempelajari daya oksidasi halogen terhadap Fe2+ dan daya reduksi ion halide terhadap Fe3+.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah
Tabung reaksi - 8
Rak tabung reaksi - 1
Pipet tetes - 9
Larutan Klorin - 1 ml
Larutan Bromin - 1 ml
Larutan Iodin - 1 ml
Larutan Besi (II) sulfat 0,1 M 2 ml
Larutan Besi (III) sulfat 0,1 M 2 ml
Larutan Natrium klorida 0,1 M 1 ml
Larutan Natrium bromide 0,1 M 1 ml
Larutan Kalium Iodida 0,1 M 1 ml
Larutan Kalium tiosianat (KSCN) 0,1 M 2 ml

Cara Kerja :
  1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+.
Ambil dua tabung reaksi, masukkan 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M ke dalam tabung pertama dan masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung kedua. Tambahkan 5 tetes larutan KSCN 0,1 M pada masing-masing tabung, guncangkan tabung, amati, dan catat pengamatan Anda.
  1. Daya oksidasi halogen.
  2. Siapkan tiga tabung reaksi bersih dan masukkan ke dalam tabung reaksi berturut-turut 10 tetes larutan Klorin pada tabung pertama, 10 tetes larutan Bromin pada tabung kedua, 10 tetes larutan Iodin pada tabung ketiga, dan amati warna tabung masing-masing larutan. Kemudian tambahkan pada masing-masing tabung reaksi 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M.
  3. Apakah pada ketiga tabung di atas terjadi oksidasi ion Fe2+ ujilah dengan larutan KSCN 0,1 M masing-masing 3 tetes. Catat warna setelah ditambah dengan larutan KSCN 0,1 M. untuk mengetahui banyak sedikitnya ion Fe3+ yang ada dalam tabung dapat dilakukan dengan menambah aquades pada tabung reaksi yang berisi ion Fe3+ hingga penuh.
    1. Daya reduksi halida.
Ambil tiga tabung reaksi dan masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam masing-masing tabung reaksi, kemudian 10 tetes larutan NaCl 0,1 M ke dalam tabung 1, 10 tetes larutan NaBr 0,1 M ke dalam tabung 2, 10 tetes larutan KI 0,1 M ke dalam tabung 3, bandingkan warna. Cermati dan catat mana yang terjadi reduksi ion Fe3+.
Hasil Pengamatan :
  1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+
Larutan Senyawa Besi Perubahan Warna setelah Penambahan Larutan KSCN
FeSO4 atau Fe2+ Pekat
Fe2(SO4)3 atau Fe3+ Lebih pekat
  1. Daya pengoksidasi halogen
Larutan Halogen Perubahan Warna setelah Penambahan
Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3
Cl2 Bening Coklat kemerahan
Br2 Bening Coklat oranye
I2 Coklat Coklat pekat
  1. Daya reduksi halide
Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan yang Terjadi
Bening NaCl Kuning muda
Bening NaBr Kuning oranye
Bening KI oranye
Dasar Teori :
Halogen berasl dari bahasa Yunani yang berarti “pembentuk garam”. Dinamai demikian karena unsure-unsur tersebut bereaksi dengan logam membentuk garam. Unsure-unsur halogen mempunyai 7 elektron valensi pada subkulit ns2 np5. Konfigurasi elektron yang demikian membuat unsur-unsur halogen bersifat sangat reaktif. Halogen cenderung menyerap 1 elektron membentuk ion bermuatan negatif satu.
Dalam bentuk unsur, halogen (X) terdapat sebagai molekul diatomik (X2). Molekul X2 mengalami disosiasi menjadi atom-atomnya. X2(g) → 2 X(g). Pada suhu kamar, fluorin dan klorin berupa gas, bromin berupa zat cair yang mudah menguap, sedangkan iodin berupa zat padat yang mudah menyublim. Halogen mempunyai warna dan aroma tertentu. Fluorin berwarna kuning muda, Klorin berwarna hijau muda, Bromin berwarna merah tua, Iodin padat berwarna hitam, sedangkan uap Iodin berwarna ungu. Semua halogen berbau rangsang dan menusuk, serta bersifat racun. Kata Klorin, Iodin, dan Bromin berasal dari bahasa Yunani yang artinya berturut-turut adalah hijau, violet (ungu), dan bau pesing (amis). Larutan halogen juga berwarna. Larutan Klorin berwarna hijau muda, larutan Bromin berwarna coklat merah, dan larutan Iodin berwarna coklat. Dalam pelarut tak beroksigen, seperti Tetraklorida (CCl4) atau Kloroform, Iodin berwarna ungu.
1)    Reaksi halogen dengan logam.
X2 + L → I A   LX
II A   LX2
III A   LX3
2)    Reaksi halogen dengan hidrogen.
H2 + X2 → 2 HX
3)    Reaksi halogen dengan nonlogam dan metalloid tertentu. Reaksi dengan Fosfarus, Arsen, dan Antimon menghasilkan trihalida jika halogennya terbatas, atau pentahalida jika halogennya berlebihan.
P4 + 6 Cl2 → 4 PCl3
P4 + 10 Cl2 → 4 PCl5
4)    Reaksi halogen dengan air.
X2 + H2O → HX + O2
5)    Reaksi halogen dengan basa Klorin, Bromin, dan Iodin mengalami reaksi disproporsional dalam basa.
6)    Reaksi antarhalogen.
X2 + n Y2 → 2 XYn
Hasil Pengamatan :
  1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+
Larutan Senyawa Besi Perubahan Warna + Larutan KSCN
FeSO4 atau Fe2+ Merah coklat
Fe2(SO4)3 atau Fe3+ Merah coklat (lebih tua)
  1. Daya oksidasi halogen
Larutan Halogen Perubahan Warna setelah Penambahan
Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3
Cl2 Putih bening Lebih tua
Br2 Kuning jernih Agak muda
I2 Merah betadine Lebih muda
  1. Daya reduksi halide
Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan Warna yang Terjadi
Bening NaCl Lebih tua dibanding Cl2
Bening NaBr Lebih tua dibanding Br2
Bening KI Lebih muda dibanding I2
Kesimpulan :
  1. Daya reduksi halogen dari Cl ke I makin bertambah terlihat dari warna larutan yang semakin tua sehingga mendekati larutan Fe2(SO4)3 padahal warna yang diharapkan menuju FeSO4.
  2. Daya oksidasi halogen dari Cl ke I makin berkurang terlihat dari warna larutan yang semakin muda sehingga mendekati larutan FeSO4 padahal warna yang diharapkan menuju Fe2(SO4)3
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.



UJI PROTEIN (KELAS XII)
Tujuan :
  1. Mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein dengan tes biuret.
  2. Mengetahui adanya inti benzena dengan uji Xanthoproteat.
  3. Mengetahui adanya ikatan belerang (S) dengan uji Timbal asetat.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
Gelas kimia Agar-agar
Pipet tetes Gelatin
Tabung reaksi Kapas
Penjepit tabung Larutan Tembaga (II) asetat 1% (CuSO4)
Kaki 3 dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M (NaOH)
Spatula kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M (NaOH)
Gelas Ukur Larutan Timbal (II) asetat {Pb (CH3COO)2}
Susu Larutan CH3COOH 3 M
Cara Kerja :
  1. Uji biuret
Jika positif (+) akan berwarna ungu.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan ± 2-3 tetes CuSO4. Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi cara kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Bila ada yang tidak larut setelah ditambahkan NaOH, panaskan dahulu beberapa menit hingga semua larut, lalu dinginkan.
  1. Tes Xanthoproteat
Untuk mendeteksi ada tidaknya inti benzena.
Jika positif (+) berwarna kuning jingga.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat, panaskan selama ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih. Amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi cara kerja tersebut dengan menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
  1. Uji Timbal asetat
Untuk menguji ada tidaknya ikatan belerang (S).
Jika positif (+) akan berwarna kehitaman.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M dan panaskan ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah itu masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan  Pb(CH3COO)2. Panaskan ± 2 menit. Amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi langkah kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
Hasil Pengamatanm :
Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji Timbal asetat
Putih telur Ungu (+) Oranye (+) Tidak hitam (-)
Susu Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Gelatin Ungu (+) Kuning (+) Hitam (+)
Agar-agar Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Kapas Biru (-) Putih bening (-) Hitam (+)
Kesimpulan :
  1. Ikatan peptida bereaksi dengan larutan biuret akan berwarna ungu. Sedangkan yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida.
  2. Inti benzena bereaksi dengan larutan Xanthoproteat akan berwarna kuning jingga.
  3. Ikatan S bereaksi dengan larutan Timbal asetat akan berwarna hitam pada kertas saring.

PRAKTIKUM KIMIA XI

LAJU REAKSI (KELAS XI)
Tujuan : Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
1. Pipet 6. Labu takar 11. Corong
2. Gelas kimia 100 ml 7. Pengaduk 12. NaOH(s) → 2 gram
3. Gelas kimia 200 ml 8. Cawan 13. HCl 3 M → 41,7 ml
4. Gelas ukur besar 9. Timbangan kaki 3 14. H2SO4 → 2,8 ml
5. Gelas ukur kecil 10. Sendok kecil 15. Air → 100 ml
Cara Kerja :
  • Percobaan I
  1. Timbang sebanyak 2 gram NaOH(s).
  2. Tuangkan NaOH (s) ke dalam gelas kimia dan larutkan dengan air ± 100 ml. Kemudian aduk hingga larut.
  3. Tuangkan larutan NaOH dari gelas kimia ke labu takar. Kemudian tambahkan air hingga volumenya 250 ml.
  • Percobaan II
  1. Ambil sebanyak 41,7 ml HCl 3 M menggunakan gelas ukur.
  2. Tuangkan ke dalam gelas kimia dan tambahkan air ± 100 ml.
  3. Aduk hingga rata.
  4. Tuangkan larutan tersebut ke dalam labu takar dan tambahkan air sampai volumenya 250 ml. Kemudian kocok.
  • Percobaan III
  1. Ambil 2,8 ml H2SO4 pekat menggunakan gelas ukur kecil.
  2. Siapkan 100 ml air dalam gelas kimia.
  3. Tuangkan sedikit demi sedikit H2SO4 pekat ke dalam gelas kimia sambil diaduk hingga rata.
  4. Tuangkan larutan tersebut ke labu takar dan tambahkan air sampai volumenya 250 ml. Kemudian kocok.
Perhitungan Percobaan :
  • Percobaan I
Untuk membuat larutan 250 ml NaOH dari NaOH padat, maka pertama kali yang dilakukan adalah menimbang NaOH padat.
Diketahui : volumenya 250 ml, Mr NaOH 40
Ditanyakan : massa NaOH padat
Jawab :
nNaoH = 250 ml x 2 = 50 mmol = 0,05 mol
nNaOH = gram NaOH/Mr
0,05 = gram NaOH/40
Gram NaOH = 2 gram
Jadi, massa NaOH yang diperlukan adalah 2 gram.
  • Percobaan II
Untuk membuat larutan 250 ml HCl 0,5 M dari HCl 3 M, pertama kali yang dilakukan adalah menghitung volume HCl.
V1.M1 = V2.M2
250.0,5 = V2.3
V2 = 41,7 ml
Jadi, volume HCl yang diperlukan adalah 41,7 ml
  • Percobaan III
Untuk membuat larutan 250 ml H2SO4 dari H2SO4 padat dengan kadar air 98% adalah melakukan perhitungan sebagai berikut.
Diketahui : c = 1,8 kg/dm3, Mr H2SO4 = 98, V1 = 250 ml, M1 = 0,2 M
Ditanyakan : molaritas H2SO4 pekat dan V2
Jawab :
M =  M
V1.M1 = V2.M2
250.0,2 = V2.18
50 = 18V2
V2 = 2,8 ml
Jadi, volume H2SO4 yang diperlukan adalah 2,8 ml (warna sama persis dengan air).
Kesimpulan :
Laju reaksi dipengaruhi oleh faktor :
  1. Konsentrasi pereaksi.
  2. Suhu.
  3. Luas permukaan.
  4. Katalis.
  5. Tekanan.
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2006. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
TITRASI ASAM BASA (KELAS XI)
Tujuan  :
  1. Menentukan konsentrasi NaOH dengan cara menetrasikan larutan HCl yang volume dan konsentrasinya tertentu dengan larutan NaOH yang akan ditentukan konsentrasinya.
  2. Membuat kurva titrasi.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
1. Buret dan statif 5. Corong
2. Labu elmeyer 6. Larutan HCl 0,1 M
3.Gelas ukur 7. Larutan NaOH x M
4. Gelas kimia 8. Indikator PP
Cara Kerja :
  1. Mengambil HCl 0,1 M sebanyak 20 ml lalu tuangkan ke dalam labu elmeyer dan beri 2-3 tetes indikator PP.
  2. Mengambil NaOH secukupnya dengan gelas kimia lalu tuangkan menggunakan corong ke dalam buret setelah ditutup krannya sampai angka nol (0).
  3. Membuka kran sedikit demi sedikit sehingga NaOH menetes ke labu elmeyer yang berisi HCl sambil diguncang-guncangkan. Menghentikan tetesan NaOH sampai warna larutan di labu elmeyer tepat akan merah.
Pengamatan :
No. Volume HCl 0,1 M Volume NaOH x M
1. 20 ml 17,5 ml
2. 20 ml 17 ml
3. 20 ml 17,5 ml
Rata-rata 52/3 = 17,3 ml
  • Warna larutan tepat akan merah TAT (Titik Akhir Titrasi)
HCl penetralan (H2O)
V1.M1 = V2.M2
20.0,1 = 17,3.M2
M2 = 0,12 M
20 ml NaOH + 20 ml HCl → NaCl + H2O
M :                 2,4                      2
B :                     2                        2                 2          2
S :                   0,4                      0                 2          2
[NaOH] = 0,4/40 = 0,01
[OH-] = 10-2
pOH = 2
pH = 12
Kurva :
Volume NaOH 0,1 M Volume HCl pH Campuran
0 ml 20 ml 1
5 ml 20 ml 2 – log 56
10 ml 20 ml 2
15 ml 20 ml 3 – log 5
20 ml 20 ml 12
25 ml 20 ml 12 + log 2
30 ml 20 ml 11 + log 32
35 ml 20 ml 12 + log 4
40 ml 20 ml 12 +log 46
45 ml 20 ml 11 + log 52
50 ml 20 ml 11 + log 57
Kesimpulan :
  • Titrasi asam basa adalah titrasi yang berdasarkan reaksi penetralan asam dan basa.
  • Titik akhir adalah pH saat indicator berubah warna (tepat akan merah).
  • Kurva titrasi adalah grafik.
  • Titrasi dibagi menjadi 3, yaitu:
-       Titrasi asam kuat dengan basa kuat.
-       Titrasi asam lemah dengan basa kuat.
-       Titrasi basa lemah dengan asam.
  • Jika pH pada asam ditetesi basa maka pH larutan akan naik, dan sebaliknya jika basa ditetesi asam maka pH larutan akan turun.
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2006. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
HIDROLISIS BEBERAPA JENIS GARAM (KELAS XI)
Tujuan : Menyelidiki beberapa jenis garam dalam air.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
1. Plat 7. Larutan NH4Cl 1 M
2. Pipet tetes 8. Larutan KCl 1 M
3. Kertas lakmus merah 9. Larutan Na2CO3 1 M
4. Kertas lakmus biru 10. Larutan Na3PO4 1 M
5. Kertas lakmus universal 11. Larutan CH3COONa 1 M
6. Tabel pH
Cara Kerja :
  1. Menetesi masing-masing kertas lakmus merah dan biru berturut-turut dengan larutan KCl, NH4Cl, CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4. Mencatat perubahan warna yang terjadi.
  2. Menetesi masing-masing kertas indicator universal dengan berturut-turut dengan larutan KCl, NH4Cl, CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4. Mencatat perubahan warna yang terjadi dan pH yang sesuai dengan warna tersebut.
Pengamatan :
Larutan 1 M Perubahan Warna Indikator pH Perkiraan pH Sifat Larutan Garam
Lakmus Merah Lakmus Biru Indikator Universal
KCl Merah Biru Kuning ± 4-6 6 Netral
NH4Cl Merah Merah Jingga ± 3 3 Asam
CH3COONa Biru Biru Hijau ± 8 8 Basa lemah
Na2CO3 Biru Biru Hijau ± 9 9 Basa
Na3PO4 biru biru hijau ± 10 10 Basa
Pemakaian lakmus pH > 7 : CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4.
Pemakaian lakmus pH < 7 : KCl dan NH4Cl.
Pembahasan :
  1. Larutan-larutan garam tergolong :
  • Netral   : KCl
  • Asam     : NH4Cl
  • Basa       : Na2CO3, Na3PO4, dan CH3COONa
  1. Rumus asam dan garam dan termasuk ke dalam golongan :
Garam Basa Pembentuk Pembentuk Asam
Rumus Jenis Rumus Jenis
KCl KOH Basa kuat HCl Asam kuat
NH4Cl NH4OH Basa lemah HCl Asam kuat
CH3COONa NaOH Basa kuat CH3COOH Asam lemah
Na2CO3 NaOH Basa kuat H2CO3 Asam lemah
Na3PO4 NaOH Basa kuat H3PO4 Asam lemah
  1. Sifat larutan garam Amonium asetat (CH3COONH4)
Reaksi : CH3COONH4 → CH3COO- + NH4+
CH3COO- + NH4+ + H2O       CH3COOH + NH4OH
Sifat garam Amonium asetat tergantung oleh harga Ka atau Kb karena terhidrolisis total yang tidak menghasilkan ion H+ atau OH-.
Kesimpulan :
  • Garam dalam air akan terurai membentuk kation dan anion seperti dari asam basa semulanya.
  • Asam merupakan basa yang lemah akan terhidrolisis.
  • Jika terjadi hidrolisis sempurna, sifat tergantung pada harga Kb atau Ka.
  • pH kurang dari 7 mempunyai sifat asam.
  • pH lebih dari 7 mempunyai sifat basa.
  • Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah mengalami hidrolisis parsial.
  • Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat mengalami hidrolisis parsial.
  • Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis total.
  • Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat tidak terhidrolisis.
  • Garam bersifat basa karena dalam reaksi menghasilkan ion OH-.
  • Garam bersifat asam karena dalam reaksi menghasilkan ion H+.