Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010

E - Learning

Mengenal Metode Belajar E-learning

Teknologi megalami kemajuan pesat di segala bidang termasuk di bidang pendidikan. Untuk itu metode pendidikan lama atau konvensional menjadi kurang efektif karena terbentur masalah ruang dan waktu. Maka dari itu metode e-learning menjadi solusinya. Apa sebenarnya e-learning itu? dan bagaimana penerapannya dalam dunia pendidikan?.
Secara definisi E-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalamnya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Juga penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-ROM atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, e-mail, blogs, wikis, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, electronic voting systems, dan lain-lain. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda [Thomas Toth, 2003; Athabasca University, Wikipedia].
Dapat disimpulkan bahwa E-learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam prose belajar mengajar. Jadi teknologi informasi berperan besar di sini.
Sejarah E-learning
E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illionis di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruktion) dan komputer bernama PLATO. Sejak saat itu, perkembangan e-learning berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Berikut perkembangan e-learning dari masa ke masa :
* Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) DALAM FORMAT
mov, mpeg-1, atau avi.
* Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara masal.
* Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
* Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar dan berukuran kecil.
Untuk menyampaikan pembelajaran nya, e-learning tidak harus selalu menggunakan internet. Banyak media -media lain yang dapat digunakan selain internet. Seperti intranet, cd, dvd, mp3, PDA dan lain-lain.. Penggunaan teknologi internet pada e-learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa lembaga pendidikan dan perusahaan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah.
Keuntungan lain belajar dengan metode e-learning seperti menghemat waktu , menghemat biaya perjalanan, menghemat biaya pendidikan, menjangkau wilayah geografis yang luas dan melatih kemandirian para pelajar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.semoga metode pembelajaran ini menjadi solusi pendidikan di indonesia.
Sumber :teledoredu.com dan edufiesta

Gaya Bahtiar Mengajarkan Kimia

Keberadaan media pembelajaran sangat diperlukan untuk menunjang tugas-tugas guru guna memotivasi dan meningkatkan pemahaman siswa. Hanya saja, pengadaan media pengajaran hasil industri cenderung mahal, sulit didapatkan, pengoperasiannya ekstra hati-hati, fungsi spesifik, serta belum tentu memicu spontanitas belajar karena media tidak terkait dengan lingkungan siswa.
Menyadari akan hal itu, Bahtiar Kholili, SPd kemudian membuat media pengajaran tiruan atau media baru dari bahan alam yang mudah didapatkan tanpa mengenyampingkan tujuan pengajaran. Dia lalu membuat dua media pembelajaran. Media ini dipraktikkan di SMA Negeri Kampak, Tranggalek, Jawa Timur, sekolah tempatnya mengajar.
Media pertama adalah indikator basa. Alat ini dibuat dengan memanfaatkan bunga tanaman di sekitar sekolah. Bahtiar mengatakan, pelaksanaan inventarisasi trayek pH ekstrak tumbuhan sangat baik untuk dilakukan sebab akan memberi motivasi positif bagi siswa dalam mempelajari indikator atau analisa larutan serta perhitungannya. Sebagai upaya mempersempit trayek pH ekstrak tumbuhan, dilakukan pengkombinasian antar ekstrak dari tumbuhan yang berbeda.
Media pembelajaran lain adalah peraga gerakan mikroskopis. Alat ini, disebutnya, dapat membantu siswa saat mempelajari fakta-fakta kimia yang bersifat abstrak menjadi lebih realistis. Peraga dibuat dengan memanfaatkan gaya tarik dari pecahan magnet yang menembus kertas gambar. "Dibandingkan sketsa di papan tulis atau gambar chapter, peraga gerakan mikroskopis jelas lebih komunikatif dan efisien," tuturnya.
Bahtiar menjelaskan, ada dua tahap proses pembelajaran dengan indikator asam basa alami. Yakni, membahas indikatornya saja dan menerapkannya dalam analisa larutan. Pembahasan indikator dilakukan dengan mencari trayek pH berbagai jenis bunga serta mengkombinasikannya.
Saat analisa larutan, dipakai mencari konsentrasi suatu larutan asam atau basa serta perhitungan pH. Misalnya, titrasi antara HCL dengan NH4OH pemakaian indikator sintetis metil red bisa diganti dengan ekstrak campuran bunga penitian dan kangkung ( pH sebesar 2,22 - 7,00). Dalam praktik di lapangan, indikator alami itu masih dapat dipakai meski telah tersimpan selama 1 bulan.
Bagaimana dengan pembuatan peraga gerakan mikroskopis? Dia menyebut tiga pertimbangan yang digunakan hingga peraga gerakan mikrokopis menjadi salah satu alternatif pilihan dalam menentukan jenis media pengajaran kimia.
Pertama, pada pelajaran kimia banyak pembahasan materinya merupakan penyederhanaan dari realita sehingga diperlukan media untuk menjelaskan. Kedua, magnet memiliki kekuatan medan dan daya tembus cukup besar terhadap benda lapis tipis atau penyekat dari bahan kertas. Ketiga, bahan pembuatan mudah didapatkan, cara membuatnya tidak sulit, mudah mengoperasikannya, dana yang dibutuhkan tidak besar, dan mudah dimodifikasi untuk disesuikan dengan sifat materi pelajaran yang akan dibahas.
Untuk mulai membuat media kertas magnet, perlu dipersiapkan sejumlah alat dan bahan:
  1. Magnet batang dengan ukuran kecil. Ini akan sangat baik jika permukaan magnetnya halus dan rata. Ketebalan magnet diusahakan setipis mungkin, sedang luas permukaannya agak lebar. Magnet ini bisa diperoleh dengan cara memecah magnet bekas alat pengeras suara.
  2. Lembar karton atau kertas gambar sebagai bahan penyekat antar megnet. 3. Kayu penyangga media kertas-magnet. Bentuknya bisa beragam sesuai keinginan.
  3. Potongan-potongan kertas dibentuk sebagai model dari pengaktualisasian benda yang berkaitan dengan suatu konsep materi pelajaran.
Sesuai fungsinya, peraga gerakan mikroskopis dipakai saat guru ingin memperjelas konsep yang bersifat abstrak dan sulit dibuktikan melalui percobaan. Karena itu, metode pengajaran yang paling sesuai adalah ceramah, diskusi, atau tanya jawab. Misalnya, penerapan media kertas magnet untuk menjelaskan konsep penurunan tekanan uap larutan. Langkah-langkah proses belajar mengajarnya adalah:
  1. Guru mempersiapkan peraga gerakan mikroskopis dengan kertas gambar dilengkapi beberapa tempelan potongan kertas berwarna tertentu dan dibentuk bulatan yang tersusun pada suatu arena gambar gelas.
  2. Guru menempelkan magnet-magnet dilengkapi potongan kertas sejenis potongan kertas yang telah ditempelkan tadi. Semua potongan kertas yang ada merupakan model dari molekul-molekul pelarut. Gerakkan ke atas semua magnet tersebut untuk memvisualisasikan penguapan molekul pelarut.
  3. Guru menambahkan potongan kertas yang berbeda warna pada arena gambar gelas. Model ini memberikan maksud adanya penambahan molekul zat terlarut.
  4. Guru menanyakan simpulan sementara kepada siswa tentang pengaruh penambahan zat terlarut terhadap penurunan tekanan uap larutan.
  5. Guru memberikan simpulan yang benar atau menyetujui simpulan siswa jika memang sudah benar.
Dengan visualisasi gerakan model molekul zat pelarut menggunakan peraga gerakan mikroskopis tersebut, menurut Bahtiar, siswa diharapkan tidak terlalu sulit berpikir abstrak membayangkan peristiwa penguapan. Pokok bahasan yang bisa dilakukan dengan peraga gerakan mikroskopis adalah pokok bahasan perubahan materi, struktur atom, hidrokarnon, konsentrasi larutan, kecepatan reaksi, koloid, sifat koligatif, atau elektrokimia.
Bagaimana tanggapan siswa dengan model pembelajaran ini? Angket yang disebarkan Bahtiar terhadap 32 siswa yang telah mengikuti pembahasan bab Struktur Atom ternyata memberikan respon yang baik. Sebagian besar menyatakan lebih termotivasi mengikuti pelajaran, konsetrasi belajar lebih bagus, dan merasa lebih mudah memahami pelajaran.
Tak hanya siswa. Sejumlah ahli dari berbagai disiplin ilmu pun memujinya. Itu dibuktikan dengan menempatkan model pembelajaran Bahtiar pada peringkat pertama Lomba Kreativitas Guru tahun 2000 tingkat Sekolah Menengah Umum bidang Matematika, Pengetahuan Alam, dan Teknologi.