
Di antara filosofi hidup orang jawa yang paling terkenal mungkin adalah
“ojo dumeh”. Bahkan filosofi ini sudah mulai digunakan oleh kalangan yang lebih luas, tidak terbatas pada orang jawa saja.
Ojo dumeh
yang dalam bahasa sekarang mungkin bisa diterjemahkan langsung sebagai
“jangan mentang-mentang” ini dianggap filosofi yang aplikatif sepanjang
masa dan sangat
powerful.
Ajaran
ojo dumeh menyarankan kepada kita agar jangan sampai
kelebihan ataupun kehebatan yang kita miliki justru menjadi bumerang,
membunuh diri sendiri. Kelebihan seseorang bisa dalam bentuk kekayaan,
keahlian, jabatan, ketampanan atau kecantikan, kepopuleran, ataupun
keturunan.
Dalam hal kekayaan misalnya, jangan mentang-mentang kaya kemudian
tidak menghargai yang miskin, apalagi melecehkan ataupun menghina.
Ojo dumeh!
Kekayaan yang kita miliki tidak bisa dijamin akan abadi. Bisa saja hari
ini kita kaya tetapi malam nanti kekayaan kita dirampok orang dan ludes
semua kekayaan kita. Kalau hal seperti itu terjadi, mau apa? Ini adalah
refleksi dari realita kehidupan di mana ada kaya ada miskin, ada yang
pintar ada yang bodoh, dan sebagainya. Yang kaya bisa saja menjadi
miskin dan yang miskin bisa saja menjadi kaya.
Untuk itulah maka kearifan jawa ini selalu mengingatkan kita untuk
ojo dumeh.
Jangan mentang-mentang memiliki kelebihan kemudian menjadi sombong,
tidak terkendali, lupa diri, bahkan kemudian merendahkan orang lain.
Kearifan untuk
ojo dumeh inilah yang mengantar banyak orang menjadi sukses. Bahkan
ojo dumeh dapat melipat gandakan kekuatan dan kelebihan kita sehingga kita lebih
powerful. Mengapa demikian?
Terdapat beberapa alasan mengapa
ojo dumeh menjadikan kita lebih
powerful. Yang pertama,
ojo dumeh
selalu mengingatkan kita agar kita tidak tergelincir kemudian jatuh
dari posisi kita sekarang. Hal ini dikarenakan dengan selalu ingat pada
adanya posisi yang berada dibawah kita, memberikan sinyal bahwa kalau
tidak berhati-hati kita bisa terpeleset dan jatuh ke posisi tersebut.
Jadi ojo dumeh menciptakan kehati-hatian. Dengan kita berhati-hati,
maka pijakan kita menjadi lebih kuat. Kita tidak akan
terpeleset, apa lagi jatuh.
Yang ke dua,
ojo dumeh akan menyenangkan orang lain. Orang
lain senang karena kita tidak mentang-mentang, tidak merendahkan
mereka. Saat kita menyenangkan orang lain, orang-orang tersebut akan
senang berada di sekitar kita. Mereka tidak ingin kita jauh dari
mereka. Apa lagi lepas dari mereka. Artinya, mereka akan menjaga kita
untuk
stay in our position. Tetap di posisi kita di sini bukan
berarti kita tidak mereka inginkan untuk menapak ke posisi yang lebih
tinggi. Mereka justru berharap agar kita lebih membuat mereka senang.
Pada posisi yang seperti ini saja kita menyenangkan mereka, sehingga
pada saat kita berhasil berada di posisi yang lebih tinggi mereka
berharap bahwa kita akan lebih menyenangkan mereka.
Yang ke tiga,
ojo dumeh menunjukkan bahwa kita adalah orang
yang bersyukur. Dengan tidak ‘mentang-mentang’ berarti kita memberi
pernyataan pada diri sendiri bahwa posisi kita yang seperti ini cukup
untuk kita dan wajib kita syukuri. Kalau kita diberi lebih dari yang
sekarang ini tentunya kita akan lebih bersyukur lagi. Dengan demikian
kita bisa menikmati apa yang sudah kita miliki dan yang sedang kita
alami.
Ke empat,
ojo dumeh membuat kita hemat energi. Merendahkan
orang lain, mengumpat orang lain, dan berfikir negatif tentang orang
lain hanya akan menguras energi kita. Lebih baik kita menempatkan
segala sesuatu pada porsinya saja. Setiap orang mendapatkan rejekinya
sendiri-sendiri. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Yang banyak bisa
menjadi sedikit, dan yang sedikit bisa menjadi banyak. Jadi, yang punya
kelebihan bersyukur saja tanpa harus mengecilkan orang lain. Berfikir
positif seperti ini akan menghemat energi kita. Apalagi orang yang
merasa kita hargai tersebut juga kemudian menghargai kita, hal tersebut
justru akan me-
recharge energi kita.
Ke lima,
ojo dumeh merupakan pengendalian diri. Yang dimaksud
pengendalian diri disini adalah membawa diri kita kepada keadaan yang
kita inginkan.
Ojo dumeh akan selalu mengingatkan kita bahwa
ternyata disekitar kita banyak sekali hal-hal yang berbeda dengan kita
dimana perbedaan tersebut bukannya sesuatu yang kita inginkan. Saat
kita diberi kelebihan dalam hal kekayaan misalnya, kita akan melihat
bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.
Selama kita menyadari hal tersebut, dan kemudian tidak mengecilkan
orang-orang yang kurang beruntung, maka kita justru akan diarahkan oleh
keadaan untuk lebih baik dari keadaan kita sekarang dan terhindar dari
keadaan yang tidak kita inginkan. Kalau kita mengecilkan orang lain,
atau menghina, hal tersebut sama saja dengan kita menyamakan posisi
kita seperti posisi mereka. Sama halnya kalau kita marah pada orang
gila dan mengumpat orang gila, maka bukankah kita menjadi sama saja
dengan orang gila tersebut? Sudah tahu dia gila kok kita marah kepada
mereka? Demikian pula saat berhadapan dengan orang-orang yang tidak
seberuntung kita. Kalau kita merendahkan mereka juga sama saja kita
down grade,
sama saja dengan mereka. Yang benar adalah saat kita lebih beruntung
kita membantu dan mengangkat orang yang kurang beruntung tersebut ke
posisi yang lebih baik. Kita boleh merendah, tetapi jangan merendahkan.
Begitu kurang lebih yang terkandung dalam ojo dumeh.
Yang ke enam,
ojo dumeh menjadikan kita tidak “
over valued”
terhadap diri sendiri. Kalau kita mentang-mentang, dan keadaan
membiarkan kita terbuai dengan ke“mentang-mentang”an kita, maka kita
bisa lupa diri. Sebagai contoh, mentang-mentang kita pandai kemudian
kita membodohi orang lain. Orang lain mungkin diam. Kita yang sedang
membodohi rasanya tiba-tiba menjadi lebih pandai, melayang tinggi lebih
pandai lagi. Itu perasaan yang menipu. Kita justru akan tertipu oleh
“mentang-mentang” kita. Untuk itulah maka kalau kita memegang kearifan “
ojo dumeh” kepalsuan perasaan tersebut dapat kita hindari. Hati-hati, kita bisa
over valued terhadap diri sendiri, yang apa bila kita tidak kuat bertahan, hal tersebut justru akan berbalik menjadi menurunkan
value kita.
Mari kita bawa kearifan “
ojo dumeh” ini ke tempat kerja kita.
Bayangkan kita bekerja keras untuk menciptakan kinerja yang kita
targetkan. Kemudian kita bisa menapak satu posisi ke posisi berikutnya
yang lebih tinggi, yang akhirnya kita mencapai posisi puncak. Tetapi
kita tetap rendah hati. Kita tetap menghargai pendapat orang lain walau
yang posisinya lebih rendah dari kita. Kita tidak “mentang-mentang”
mempunyai kekuasaan kemudian kita sewenang-wenang dengan kekuasaan
kita. Kita tidak mentang-mentang berpenghasilan tinggi kemudian
membelanjakan uang kita semau kita sampai lupa berderma. Kita tetap
mendengarkan teman kerja kita seperti apapun posisi mereka. Kita tetap
hemat dan semakin banyak berderma. Bagaimana dengan profil seperti itu?
Kita ingin orang tersebut
lengser? Tentunya tidak.
Untuk itulah maka kearifan “
ojo dumeh” banyak dipelajari, dan diparaktekkan orang di jaman modern seperti ini.
Ojo dumeh mendorong kita untuk semakin memanusiakan manusia (dalam istilah jawa disebut
nguwongake).
Ojo dumeh tidak akan mengerdilkan diri sendiri, justru akan membuat kita menjadi besar karena berjiwa besar.
Ojo dumeh.