Tampilkan postingan dengan label OJO DUMEH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OJO DUMEH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010

Bank " Ojo dumeh "

Semalam saya menyaksikan sebuah acara dialog di salah satu stasiun TV swasta, topiknya kalau tidak salah tentang hak angket sebuah bank. Dalam acara itu, host yang cantik dan senyumnya menawan mengajak pemirsa dan para peserta dialog untuk menyaksikan sebuah tayangan, sepertinya sebuah acara jumpa pers.
Dalam tayangan itu seorang mantan menteri mengatakan dan menyebut seorang pejabat tinggi  lainnya dengan sebutan “Profesor Kodok”.
Masya Allah, pantaskah seorang mantan pejabat tinggi mengolok-olok koleganya dengan sebutan yang sangat tidak pantas didengarkan oleh Yu Ginten dan Cak Ngaderi sekalipun ?
Bagaimana perasaan orangtua , isteri, anak, menantu  cucu dan seluruh kerabat dan anak buah si pejabat yang di sebut sebagai Profesor Kodok itu ?? Tentu malu atau bahkan mungkin marah.
Bagaimana perasaan orang tua, isteri, anak, menantu  cucu dan seluruh kerabat  sang menteri yang mengolok-olok  pejabat lainnya itu ?? Apakah mereka bangga atau juteru malu ??
Mantan menteri itu mungkin lebih pintar daripada sang profesor. Tapi sayang, kurang bisa mengendalikan mulutnya. Profesional tanpa dukungan moral yang baik akan menjadikan seseorang menjadi takabur dan sok pintar.
Jangan mentang-mentang ada kebebasan deh. Ojo dumeh !!

Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo..

Filosofi SemarOjo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. Sang Hyang Ismaya.. Semar.. Kaki Semar selalu mengajarkan dan menasehati anak cucunya sikap Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah “OJO DUMEH.. OJO GUMUNAN.. ELING LAN WASPODO”.. Petuah tersebut sepertinya sudah menjadi satu paket yang berkaitan erat dari beliau dalam menjalani kehidupan di dunia ini.. Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. tiada pernah bosan dalam setiap pengajarannya Mbah Gendeng.. eeee.. Mbah Gendut selalu mengungkapkan perkataan itu.. dan Beliau sendiri yang di mata kita sudah bagaimana gitu.. hehehe.. beliau sendiri disiplin menjalankan prinsip Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo..

Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinyasendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti” serta untuk “ Hamemayu Hayuning Bawono”.. Prinsip dan pepatah ini berlaku meliputi perjalanan lahiriah dalam melangkah maupun perjalanan bathiniah.. ataupun perjalanan spiritual..
Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat”Rahayu”, tidak mudah panik dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya.. manjadi manusia yang selalu berada dalam ketenangan jiwa tidak grasa grusu selalu berhati hati dalam melangkah.. dan beliau itu sesuai sifat punakawannya sering menjebak dengan perangkap untuk melatih manusia agar Eling lan Waspodo.. itulah sifat bijaksana dari beliau..
Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.. Dengan ini mencetak manusia manusia yang berbudi pekerti luhur.. Cinta Damai dan penuh Kasih Sayang terhadap sesama manusia.. alam semesta dan Tuhannya..
OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatu peringatan agar manusia tidak larut dengan apa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cenderung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti :
1. Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang,
2. Mentang mentang Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya..
Siapa yang “mentang mentang” maka suatu saat akan menjadi sebagaimana dalam pribahasa Jawa :
1. Sopo sing Dumeh bakal keweleh
2. Sopo sing adigang bakal keplanggrang
3. Sopo sing Adigung bakal kecemplung
4. Sopo sing Adiguno bakal ciloko
5. Sopo sing Becik bakal ketitik
6. Sopo sing salah bakal seleh
7. Sopo sing Temen bakal Tinemu
Sebaliknya dengan sikap Ojo Dumeh Jangan Mentang Mentang ini menjadikan manusia selalu menyadari keadaannya dan selalu dalam kesadaran untuk mengembalikan semua kepada Allah.. tidak mudah tertipu dalam perjalanan lahir dan bathinnya.. tidak menjadi sombong maupun rendah diri selama hidupnya melainkan selalu pasrah dan sumeleh.. inilah bagian yang terpenting dari Ojo Dumeh Jangan Mentang Mentang..
OJO GUMUNAN yang maksudnya Jangan Kagetan atau apa yaaa.. hehehe,.. maklum bahasa jawanya pas pasan alias enda ngerti banget.. tetapi maknanya di dalam perjalanan lahir dan bathin.. janganlah kita menjadi manusia yang mudah kagetan.. mudah terpengaruh dengan sanjung puja maupun hina cerca melainkan tetap teguh dengan Niat Awal.. jangan mudah terpengaruh oleh lingkungan maupun apa yang masuk dari luar diri.. melainkan percaya kepada diri.. baru di sanjung sedikit sudah lupa diri akhirnya perjalanan terhenti.. baru ada yang mencerca sedikit sudah rendah diri maka sama juga perjalanan menjadi tertunda..
Apalagi dalam perjalanan bathiniah dan spiritual disini di tuntut sekali agar kita Ojo Gumunan.. agar kita tidak terjebak tipuan jerat dan perangkap dimensi lainnya yang kadang ingin menghentikan perjalanan spiritual kita dan membuat kita lupa diri dan akhirnya menghentikan perjalanan.. Mereka dari dimensi lain mempunyai Trik dan Tipu yang hebat istilahnya mengalah untuk menang sehingga para pejalan spiritual sering tertipu di sini dan akhirnya tiada menyadari mereka lepas dari eling lan waspodo.. yaitu dia karena terkaget kaget dan terheran heran menjadikannya menjadi lupa diri dan sombong serta mulai mentan mentang akhirnya lepas Eling lan Waspodo.. maka berhati hatilah dalam menghadapi sanjung puja puji maupun cerca.. Ojo Gumunan meliputi perjalanan lahir dan bathin..
Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dalam Kesadaran dan Waspada.dalam setiap langkah.. jangan ceroboh tetapi berpikirlah dengan baik.. Ingat yang dijalani adalah inget dalam kaitan Menembah kepada Tuhan, ingat akan karunianya, Rahmatnya, Nikmatnya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi pekerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulian kepada manusia dan lingkungan sekitarnya. Ingat akan diri sebenar diri yang lemah tiada berdaya.. sehingga semua langkah dan geraknya meliputi kembali kepadaNYA..
Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup, teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita.sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini. Dalam mengambil keputusan sebelum melangkah selalu berfikir ulang.. tidak grasa grusu terburu nafsu.. waspadalah !!.. Waspadalah !!.. Waspadalaaah !!..
Bahkan Sang Hyang Ismaya saja selalu menjebak ataupun menguji anak muridnya sendiri.. dengan memberikan jebakan maka beliau mengetahui anak muridnya Eling lan Waspodo atau tidak.. Bahkan Beliau sering berpesan kepada anak cucunya.. agar jangan percaya begitu saja omongan makhluk maupun itu manusia jin maupun makhluk dari dimensi lainnya.. bahkan jika Beliau sendiri menyuruh atau memberikan pengajaran janganlah di telan mentah mentah begitu saja selalu harus Eling lan Waspodo.. Siapapun yang berbicara karena bisa saja Beliaupun lengah dan perkataan atau petunjuknya ditunggangi setan.. begitu rendah hatinya sifat beliau.. menjadi satu pengajaran yang berharga bagi anak cucunya.. beliau menerapkan Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo..
Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. memang merupakan satu kesatuan yang harus dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah Sumeleh dan Yakin serta berpegang teguh Kepada Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa serta menjadi bijaksana, sederhana, rendah hati dan selalu hati hati dalam setiap langahnya. Membentuk menjadi manusia manusia yang “Bisa Merasa.” Bukan manusia manusia sombing yang selalu ”Merasa Bisa.”
Dengan “Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. maka dalam bahasa Jawa disebutkan .. Ono Luwih, Luwih soko Ono.. Kang Kebak, Luwih dening kebak.. Kang suwung, Luwih dening Suwung.. Kang Pinter, Luwih dening Pinter.. Kang Sugih, Luwih dening Sugih.. Mari kita terapkan Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo.. dalam kehidupan kita sehari hari meliputi kehidupan lahiriah dengan manusia lainnya dan alam semesta maupun dalam kehidupan bathiniah dengan Tuhan maupun dimensi lainnya.. sekali lagi Pasrah Sumeleh.. Olah Rasa menjadi manusia yang Bisa Merasa.. dengan menerapkan Ojo Dumeh.. Ojo Gumunan.. Eling lan Waspodo..
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG
‘TUK SEMUA SAHABAT SAHABATKU TERSAYANG
” I LOVE YOU PUUUUULLLLLLLLLLL “
Dinding Kepalsuan , Manusia Keledai , Akal dan Hati , Hilangnya Jati Diri Manusia , Jati Diri Manusia , Hidup Matinya Hati , Mengembalikan Jati Diri Bangsa, Iman dan Nilai Manusia, Rumahku Impianku, Iman dan Cinta Illahi , Iman dan Percaya kepadaNYA , Mbah Gendeng, Zikrullah dan Alam Semesta Bergetar !!! , Kekasihku.. Pujaanku.. Sepenuh Jiwa Merindu.. , Filosofi Semar , Mengembalikan Jati Diri Bangsa : Kembali pada Tujuan Hidup semula , Manusia janganlah Kau Sombongkan Diri , Ibu Kota Negara Hilang Lenyap Terendam Air , RAIHLAH JATI DIRI MANUSIA untuk MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA , Kiamat 2012!!, Hati Hati Kiamat Sudah Terjadi Saat ini!! , Demi Masa Sesungguhnya Manusia Dalam Kerugian yang Nyata , Kholifah Bumi Meraih Kenikmatan Ibadah dalam Cinta , Hancurkan Tembok Kedirian !!.. Hidupkan Kesadaran Batin !!.. , Trisila Kejawen dan Tatanan Paugeraning Urip , Konsep Ketuhanan Jawa With Sang Hyang Ismaya (SEMAR) , Apalah Arti Manusia Tanpa Memiliki Kesadaran !!

Misteri Ojo Dumeh

OJO DUMEH
Falsafa kuno, dari bahasa Jawa yang memiliki arti ojo = jangan Dumeh = sombong,pamer,lupa diri.ketika seseorang sudah dihinggapi "ojo dumeh"

ojo dumeh....SehatJangan sombong ketika saat ini diberi kesehatan, ingatlah ketika sakit tak berdaya..hilang indra perasa,tidur tak nyenyak,badan terasa ingin dibuang, ketakutan datangnya kematian.
Fir Aun...! lupa diri ketika kesehatan terlimpahkan dalam hidupnya, kesakitan tiada datang. Babtis dirinya "RAJA DI RAJA", "MANUSIA YANG MENUHANKAN DIRI" ternyata dia juga mati...tak berbekas, tingggal kerangkah sebagai bahan peringatan bagi manusia yang mau belajar.

ojo dumeh....Sugehojo dumeh....Kuat
Lah...khaulah wala kuuwwata Illah Billah hanya DIAlah pemilik kekutan yang tiada mampu manusia menandingi dan mengupayakan segala daya.
jangan SOMBONG....!
DELLILAH atau SAMSON akhirnya terkalahkan juga

Ojo dumeh....Kuoso
saat ini segalah ucap dan tindak selalu diindahkan ibarat sabda bak "SABDHO PANDHITHO RATU" karena kita punya kekuasaan. seolah dunia akan kita kendalikan dengan kekuasaan kita.pernahkah kita mengingat suatu dilahirkan dimuka bumi ini ....tiada daya dan kuasa, tanpa membawa apa-apa. Kasih dan sayang orang lain yang mengatarkan kita pada kuasa dunia maka ingatlah ketika kita mengendalikan dan memiliki kuasa itu bersiap-siaplah untuk tidak memilikinya karena tidak ada kekuasaan,kemampuan yang abadi di dunia ini.

ojo dumeh....Pinter
orang pinter pasti pernah bodho
orang pinter pasti pernah salah
orang pinter pasti ada orang bodho sehingga dia akan kelihatan pinter
orang pinter belum tentu semua hal serba tahu dan pinter di semua hal
tidak ada kepinteran yang sempurna
punya manfaatkah kepinteran itu tak kala salah memanfaatkan kepinteran
sudah memberi manfaatkah kepinteran itu untuk semua
ataukah kita lupa.....?tak kala usia telah senja sirnalah semuannya ooohh ala MANUSIA.

ojo dumeh....Bagus
BAGUS...!
wajah...suatu saat pasti akan tua mungkin juga kebagusan akan membawa bencana
sadarilah bahwa itu semua tercipta karena ada suatu rencana dari tuhan maka beruntunglah bagi mereka yang selalu mencari apa rencana tuhan terhadap itu semua.
BAGUS....!
jiwa dan hati itu lebih utama tak ada toko atau pasar yang menjualnya
cari sampai ketemu, pertahankan jikalau kita suda menemukannya

"BAITUL MUHARROM DAN BAITULLAH TEMPATNYA" tuhan telah memberikan kepada semua umatnya.

The Power Of " OJO DUMEH "



Di antara filosofi hidup orang jawa yang paling terkenal mungkin adalah “ojo dumeh”. Bahkan filosofi ini sudah mulai digunakan oleh kalangan yang lebih luas, tidak terbatas pada orang jawa saja. Ojo dumeh yang dalam bahasa sekarang mungkin bisa diterjemahkan langsung sebagai “jangan mentang-mentang” ini dianggap filosofi yang aplikatif sepanjang masa dan sangat powerful.
Ajaran ojo dumeh menyarankan kepada kita agar jangan sampai kelebihan ataupun kehebatan yang kita miliki justru menjadi bumerang, membunuh diri sendiri. Kelebihan seseorang bisa dalam bentuk kekayaan, keahlian, jabatan, ketampanan atau kecantikan, kepopuleran, ataupun keturunan.
Dalam hal kekayaan misalnya, jangan mentang-mentang kaya kemudian tidak menghargai yang miskin, apalagi melecehkan ataupun menghina. Ojo dumeh! Kekayaan yang kita miliki tidak bisa dijamin akan abadi. Bisa saja hari ini kita kaya tetapi malam nanti kekayaan kita dirampok orang dan ludes semua kekayaan kita. Kalau hal seperti itu terjadi, mau apa? Ini adalah refleksi dari realita kehidupan di mana ada kaya ada miskin, ada yang pintar ada yang bodoh, dan sebagainya. Yang kaya bisa saja menjadi miskin dan yang miskin bisa saja menjadi kaya.
Untuk itulah maka kearifan jawa ini selalu mengingatkan kita untuk ojo dumeh. Jangan mentang-mentang memiliki kelebihan kemudian menjadi sombong, tidak terkendali, lupa diri, bahkan kemudian merendahkan orang lain. Kearifan untuk ojo dumeh inilah yang mengantar banyak orang menjadi sukses. Bahkan ojo dumeh dapat melipat gandakan kekuatan dan kelebihan kita sehingga kita lebih powerful. Mengapa demikian?
Terdapat beberapa alasan mengapa ojo dumeh menjadikan kita lebih powerful. Yang pertama, ojo dumeh selalu mengingatkan kita agar kita tidak tergelincir kemudian jatuh dari posisi kita sekarang. Hal ini dikarenakan dengan selalu ingat pada adanya posisi yang berada dibawah kita, memberikan sinyal bahwa kalau tidak berhati-hati kita bisa terpeleset dan jatuh ke posisi tersebut. Jadi ojo dumeh menciptakan kehati-hatian. Dengan kita berhati-hati, maka pijakan kita menjadi lebih kuat. Kita tidak akan terpeleset, apa lagi jatuh.
Yang ke dua, ojo dumeh akan menyenangkan orang lain. Orang lain senang karena kita tidak mentang-mentang, tidak merendahkan mereka. Saat kita menyenangkan orang lain, orang-orang tersebut akan senang berada di sekitar kita. Mereka tidak ingin kita jauh dari mereka. Apa lagi lepas dari mereka. Artinya, mereka akan menjaga kita untuk stay in our position. Tetap di posisi kita di sini bukan berarti kita tidak mereka inginkan untuk menapak ke posisi yang lebih tinggi. Mereka justru berharap agar kita lebih membuat mereka senang. Pada posisi yang seperti ini saja kita menyenangkan mereka, sehingga pada saat kita berhasil berada di posisi yang lebih tinggi mereka berharap bahwa kita akan lebih menyenangkan mereka.
Yang ke tiga, ojo dumeh menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bersyukur. Dengan tidak ‘mentang-mentang’ berarti kita memberi pernyataan pada diri sendiri bahwa posisi kita yang seperti ini cukup untuk kita dan wajib kita syukuri. Kalau kita diberi lebih dari yang sekarang ini tentunya kita akan lebih bersyukur lagi. Dengan demikian kita bisa menikmati apa yang sudah kita miliki dan yang sedang kita alami.
Ke empat, ojo dumeh membuat kita hemat energi. Merendahkan orang lain, mengumpat orang lain, dan berfikir negatif tentang orang lain hanya akan menguras energi kita. Lebih baik kita menempatkan segala sesuatu pada porsinya saja. Setiap orang mendapatkan rejekinya sendiri-sendiri. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Yang banyak bisa menjadi sedikit, dan yang sedikit bisa menjadi banyak. Jadi, yang punya kelebihan bersyukur saja tanpa harus mengecilkan orang lain. Berfikir positif seperti ini akan menghemat energi kita. Apalagi orang yang merasa kita hargai tersebut juga kemudian menghargai kita, hal tersebut justru akan me-recharge energi kita.
Ke lima, ojo dumeh merupakan pengendalian diri. Yang dimaksud pengendalian diri disini adalah membawa diri kita kepada keadaan yang kita inginkan. Ojo dumeh akan selalu mengingatkan kita bahwa ternyata disekitar kita banyak sekali hal-hal yang berbeda dengan kita dimana perbedaan tersebut bukannya sesuatu yang kita inginkan. Saat kita diberi kelebihan dalam hal kekayaan misalnya, kita akan melihat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Selama kita menyadari hal tersebut, dan kemudian tidak mengecilkan orang-orang yang kurang beruntung, maka kita justru akan diarahkan oleh keadaan untuk lebih baik dari keadaan kita sekarang dan terhindar dari keadaan yang tidak kita inginkan. Kalau kita mengecilkan orang lain, atau menghina, hal tersebut sama saja dengan kita menyamakan posisi kita seperti posisi mereka. Sama halnya kalau kita marah pada orang gila dan mengumpat orang gila, maka bukankah kita menjadi sama saja dengan orang gila tersebut? Sudah tahu dia gila kok kita marah kepada mereka? Demikian pula saat berhadapan dengan orang-orang yang tidak seberuntung kita. Kalau kita merendahkan mereka juga sama saja kita down grade, sama saja dengan mereka. Yang benar adalah saat kita lebih beruntung kita membantu dan mengangkat orang yang kurang beruntung tersebut ke posisi yang lebih baik. Kita boleh merendah, tetapi jangan merendahkan. Begitu kurang lebih yang terkandung dalam ojo dumeh.
Yang ke enam, ojo dumeh menjadikan kita tidak “over valued” terhadap diri sendiri. Kalau kita mentang-mentang, dan keadaan membiarkan kita terbuai dengan ke“mentang-mentang”an kita, maka kita bisa lupa diri. Sebagai contoh, mentang-mentang kita pandai kemudian kita membodohi orang lain. Orang lain mungkin diam. Kita yang sedang membodohi rasanya tiba-tiba menjadi lebih pandai, melayang tinggi lebih pandai lagi. Itu perasaan yang menipu. Kita justru akan tertipu oleh “mentang-mentang” kita. Untuk itulah maka kalau kita memegang kearifan “ojo dumeh” kepalsuan perasaan tersebut dapat kita hindari. Hati-hati, kita bisa over valued terhadap diri sendiri, yang apa bila kita tidak kuat bertahan, hal tersebut justru akan berbalik menjadi menurunkan value kita.
Mari kita bawa kearifan “ojo dumeh” ini ke tempat kerja kita. Bayangkan kita bekerja keras untuk menciptakan kinerja yang kita targetkan. Kemudian kita bisa menapak satu posisi ke posisi berikutnya yang lebih tinggi, yang akhirnya kita mencapai posisi puncak. Tetapi kita tetap rendah hati. Kita tetap menghargai pendapat orang lain walau yang posisinya lebih rendah dari kita. Kita tidak “mentang-mentang” mempunyai kekuasaan kemudian kita sewenang-wenang dengan kekuasaan kita. Kita tidak mentang-mentang berpenghasilan tinggi kemudian membelanjakan uang kita semau kita sampai lupa berderma. Kita tetap mendengarkan teman kerja kita seperti apapun posisi mereka. Kita tetap hemat dan semakin banyak berderma. Bagaimana dengan profil seperti itu? Kita ingin orang tersebut lengser? Tentunya tidak.
Untuk itulah maka kearifan “ojo dumeh” banyak dipelajari, dan diparaktekkan orang di jaman modern seperti ini. Ojo dumeh mendorong kita untuk semakin memanusiakan manusia (dalam istilah jawa disebut nguwongake). Ojo dumeh tidak akan mengerdilkan diri sendiri, justru akan membuat kita menjadi besar karena berjiwa besar. Ojo dumeh.