Kamis, 22 Maret 2012

Program UN jujur jangan hanya semboyan


 
(W - Pencanangan Ujian Nasional (UN) 2012 yang jujur, rencananya akan di launching  di Kaltim, diharapkan bukan sekadar semboyan belaka, tetapi harus dilaksanakan dengan  sebenarbenarnya karena hal ini sebuah komitmen yang sudah disampaikan Walikota Medan, Rahudman Harahap.



Semoga bukan sekadar untuk hiasan bibir atau untuk meningkatkan popularitas,” kata Pengamat  Pendidikan hari ini.

Dia menilai, program UN yang jujur adalah rencana yang sangat luar biasa, apalagi tahun 2011  lalu perolehan nilai di Sumatera Utara dan Medan khususnya. sudah menempati peringkat nomor 2  se Indonesia sesudah Bali. Untuk Medan, jumlah peserta SMP dan MTs yang ikut UN 41. 846 orang,  tidak lulus 101 orang atau 0,24 persen, tercatat jumlah peserta UN SMP 37.308 tidak lulus 89  orang atau 0,24 persen. Pelajar MTs yang ikut UN 4.383, yang tidak lulus 10 orang atau 0,23  persen. SMP Terbuka peserta 155 orang, tidak lulus 2 orang atau 1,29 persen.

Sedangkan untuk SMA dan MA dari 24.440 peserta SMA dan MA, tidak lulus sebanyak 66 orang atau  0,27 persen. Khusus SMA peserta 22.579 orang, tidak lulus 56 atau sama dengan 0,25 persen.  Sedangkan SMK dari 14.886 peserta, tidak lulus 43 orang sama dengan 0,29 persen.

Menurut dia, apalagi diberlakukan UN yang jujur, pasti nilainya akan mengalami peningkatan tapi  bisa juga sebaliknya, nilainilai itu bisa merosot. “Saya kurang optimis terhadap rencana ini,  apalagi UN masih diselenggarakan oleh birokrat di dinas pendidikan , karena ini menyangkut nama  baik dan kredibilitas lembaga pendidikan dan pejabat berwenang bidang pendidikan,” sebut Nurdin.

Dia menambahkan, agar pelaksanaan UN benarbenar jujur, sebaiknya pelaksanaannya diserahkan  kepada pihak independen, mulai dari persiapan perumusan soal, pembuatan naskah soal, penggandaan  sampai pengawasan dan pemeriksaan LJK. “Tidak perlu menunggu sampai berharihari untuk  mengetahui lulus atau tidaknya siswa dalam ujian nasional tersebut. Try out yang diselenggarakan  oleh lembaga bimbingan belajar selama ini sudah dapat dijadikan contoh untuk melakukan UN yang  jujur. Jika LJK UN langsung diperiksa setelah ujian selesai dengan mesin pemeriksa LJK, maka  hasilnya sudah dapat dilihat dan sudah dapat ditentukan tingkat kelulusannya,” ujarnya.

Nurdin pesimis hasil UN itu jujur, sebab semua punya kepentingan dalam penyelenggaraannya, mulai  dari orangtua, sekolah/yayasan, pemerintah daerah/dinas pendidikan, bupati, sampai tingkat pusat. Jika wali kota memang benar bertekat untuk menjadikan Medan sebagai salah satu kota  pencanangan UN jujur, maka program dan perencanaannya harus jelas, perangkat pendukung terutama  SDM nya harus segera ditentukan, karena UN tidak lama lagi akan berlangsung, banyak hal yang  harus dibenahi.

Disebutkannya, selama inipun masih dipertanyakan, apakah pelaksanaan UN bukan proyek nasional  dan daerah hanya sebagai pelaksana saja, sebab segala sesuatunya tetap mengacu ke pusat termasuk  pemeriksaan dengan pemindaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar