Rabu, 09 Juni 2010

Syaharie Ja’ang Paparkan 9 Langkah Atasi Banjir

Banjir yang selalu terjadi di kota Samarinda  secara langsung atau  tidak langsung mengganggu pembangunan daerah. Karena itu perlu ada langkah-langkah serius untuk mengatasinya sehingga pembangunan Samarinda bisa berjalan sesuai harapan.

Sejauh ini Pemerintah Kota Samarinda, dengan dukungan Pemprop Kaltim dan pemerintah pusat  telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan banjir tersebut.

Komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam mengimplementasikan  program pengendalian banjir kota Samarinda perlu diwujudkan secara tepat dan cepat sebagai tindakan awal yang berkelanjutan untuk mengatasi persoalan banjir di Samarinda.

Melihat kondisi itu Wakil Walikota Samarinda yang juga Pembina FORMAS SJ mencoba menawarkan 9 langkah untuk mengatasi masalah banjir di Samarinda yang diantaranya adalah relokasi pemukiman Sungai Karang Mumus (SKM), daerah rawan banjir terbesar Samarinda terdapat di Daerah Aliran Sungai  (DAS) Sungai Karang Mumus. “Ini (relokasi,red) harus jadi langkah prioritas,” tegas Syaharie Jaang pada acara Presentasi 9 Langkah Syaharie Jaang mengendalikan Banjir kota Samarinda sekaligus pelantikan Pengurus FORMAS SJ di Gedung Guang Dong Samarinda, Sabtu (30/5).
Langkah berikutnya adalah pemeliharaan dan normalisasi alur sungai. Menurunya kapasitas aliran alur sungai merupakan salah satu penyebab meluasnya dareah genangan air, oleh sebab itu  penurapan dan normalisasi SKM. Selanjutnya langkah ketiga melakukan  penanganan secara tepat daerah resapan air. Luapan banjir juga disebabkan berkurangnya retensi daerah-daerah resapan air, sehingga  perlu dilakukan kembali atau memfungsikan kembali daerah rawa (revitalisasi rawa) seperti di daerah Pampang, Bengkuring, Bayur, Damanhuri, Gunung Lingai, Sampaja, Palaran dan Simpang Pasir.

Langkah keempat memperketat perijinan pertambangan, peninjauan kembali ijin pertambangan di bawah kewenangan Pemkot serta pengawasan dan evaluasi lingkungan. Langkah kelima penghijauan kembali pada daerah-daerah kritis, akibat menurunya kualitas vegetasi tutupan lahan pada sub-sub DAS kota Samarinda mengakibatkan  meluasnya daerah rawan banjir. Gerakan ini telah dilakukan Pemkot bekerjasama dengan GNKPA (Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air) yang dilakukan secara bertahap untuk daerah Gunung Batu Cermin, Bengkuring dan Bayur. Langkah ke enam pembangunan system pompanisasi dan pintu air secara topografi 36,20% wilayah kota Samarinda mempunyai kemiringan lahan yang cukup landai antara 0 hingga 2 persen, karena itu selain pembangunan pintu air dan pompa banjir di outlet-outlet  anak SKM (8 lokasi), Karang Asam besar  dan Karang Asam Kecil.

Langkah ketujuh menyiapkan pompa banjir Mobile  di daerah rawan banjir, pompa banjir  yang mudah dibawa ke lokasi-lokasi rawan banjir untuk mempercepat penurunan muka air banjir atau genangan. Langkah ke delapan pembangunan bendungan pengendali banjir folder dan peningkatan kapasitas bendungan Benanga, Pemkot dan Pemprov serta Pemerintah Pusat  akan membangun waduk pengendali  banjir, kolam retensi, folder, revitalisasi rawa dan peningkatan kapasitas bendungan Benanga.

Langkah kesembilan pemeliharaan dan pembersihan drainase atau saluran air di daerah pemukiman dan kota, perlu adanya peningkatan kapasitas aluran drainase yang ada  dalam bentuk kegiatan pemeliharaan dan pembersihan saluran dari sedimentasi dan sampah terutama di daerah pemukiman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar