Jumat, 05 Maret 2010

KITA DAN MERPATIKU

Aku masih terdiam, menikmati setiap detik waktu yang kulalui bersamanya. Terasa Indah. Bahagia rasanya, jika setiap hari aku bisa duduk bersamanya di sini. Yah… Di taman ini, seperti saat ini.
Pandu, cowok yang hampir 2 tahun jadi pacarku itu, kembali menggenggam tanganku, erat. Namun aku tetap diam, tak bergeming. Aku terus memandang lurus ke atas. Menatap iri pada sepasang merpati putih, yang kini tengah terbang… tinggi… lepas… bebas… dan selalu bersama…
“ Merpati itu… selalu bersama ya?? pasti bahagia” Pandu tiba-tiba berujar pelan. Aku ngga nyangka, ternyata dari tadi dia juga merhatiin sepasang merpati itu ya…
“ kapan ya kita bisa kayak mereka? Terbang lepas, bebas, ke ujung dunia” Tanyaku, lirih. Mungkin malah nyaris tak terdengar.
“ Mungkin suatu saat nanti…” jawabnya, lembut. Cowok itu kemudian menatapku, lekat. Dan aku… kembali menemukan keteduhan didalam sepasang mata itu. Lalu tiba-tiba, ia berujar pelan…
“ Neva… bisa tolong pejamin mata kamu sekarang?”
“ kenapa harus pejamin mata?” tanyaku, heran.
“ please… kali ini aja. Pejamin mata kamu” Pandu tersenyum manis. Hemh… senyum itu. Rasanya aku memang ngga akan pernah bisa nolak, jika senyum itu mulai tersungging. Akhirnya… aku memenjamkan mata…
Gelap…sunyi.. tapi aku masih bisa merasakan hembusan angin yang perlahan mulai menerpa wajahku, dan masih bisa mendengar kepakan sayap sepasang merpati yang kini mungkin telah terbang tinggi itu.
“ sekarang kamu boleh buka mata…” Suara Pandu yang serak seolah mengomandaniku untuk membuka mata. Perlahan, aku membuka kedua kelopak mataku. Dan… kini aku kembali terdiam. Saat melihat seseorang yang aku sayangi, kini tersenyum lembut, seraya menyodorkan sebuah cincin indah dengan ukiran namaku di atasnya.
“ Va, mau ngga tunangan sama aku? Sekarang. Sepasang merpati itu yang akan jadi saksi kebersamaan kita…” Tuturnya pelan. Ia lalu mendongak ke atas. Menyadarkanku, bahwa sepasang merpati itu masih disini, masih bersama disini.
Lagi-lagi aku terdiam sejenak. Aku bahagia saat ini. Seekor kupu-kupu nampaknya telah terbang mengitari hatiku yang kini penuh bunga. Pandu… aku juga ingin kita kayak merpati itu. Dan lalu, aku mengangguk pelan.
Mungkin wajahku kini mulai merona bahagia. Pandu, aku mulai menatapnya, lekat. Senyumnya yang tadi sempat memudar, mulai kembali mengembang. Matanya nampak penuh dengan kebahagiaan. Lalu kemudian, perlahan ia memasangkan cincin itu di jariku. Indah...
“ Makasih Neva…aku sayang kamu…” ia mengusap tanganku, lembut.
“ Aku juga sayang kamu…” Tiba-tiba merpati itu terbang turun, lalu hinggap di lenganku. Aku sama sekali ngga percaya… Tapi, apa mungkin ini yang namanya keajaiban cinta?? Kemudian aku mengelus sayap putihnya, lalu berjar pelan…
“ Merpati… meski tak sebebas kalian. Tapi saat ini kita bahagia…”

1 komentar:

  1. menarik juga nih, blog guru kimia ada cerpennya..
    salam kenal

    BalasHapus