Jumat, 19 Maret 2010

Masa Kecil Brack Obama

Masa Kecil Barack Obama di Jakarta, Diceriterakan Teman Mainnya

Saya (Wimar Witoelar-red) termasuk orang yang senang mengikuti peristiwa-peristiwa di luar negeri selain dalam negeri. Di Amerika sekarang ada peristiwa yang selain asyik juga penting yaitu pemilihan presiden Amerika Serikat yang sudah mencapai tahap dimana hanya ada dua calon. Partai Republik mencalonkan John McCain dan Partai Demokrat mencalonkan Barack Obama. Nah, keunikan Barack Obama adalah dia pernah tinggal selama empat tahun di Indonesia semasa kecil. Kita sangat beruntung bisa bertemu salah satu dari teman Barack Obama yang dulu dipanggil Barry Soetoro karena ayah tirinya bernama Lolo Soetoro dan ibunya bernama Stanley Ann Dunham. Saat ini ada sekelompok orang yang sekarang sering tampil untuk bercerita mengenai masa kecil mereka dengan Barack Obama, yang sering terkena pemberitaan tidak benar. Kelompok ini bisa memberikan kesaksian yang sangat benar. Jadi kini kami menghadirkan Rully Dasaad, salah satu teman Barack Obama.
Rully Dasaad mengungkapkan kawan-kawannya sewaktu SD rata-rata bangga karena Barack Obama pernah menjadi bagian dari hidup mereka sewaktu kecil. Pada saat itu pendidikan di SD Besuki sangat bagus, benar-benar kebhinnekaan. Setiap hari Senin mereka juga membaca Pancasila, berbaris masuk kelas. Obama pun ikut membacanya, dia mengetahui apa arti Pancasila. Rully sebetulnya agak kaget Obama mempunyai slogan: change, believe. Slogan itu menyangkut keadilan, kebhinnekaan, antara ras dan agama, keadilan politik bagi setiap bangsa. Itu ada di Pancasila kita yang saat itu setiap hari Senin dibaca.
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Rully Dasaad.
Bagaimana awal Anda bertemu dengan Barack Obama semasa kecil?

Kami ingat pada tahun 1970 Barry datang dikenalkan oleh wakil kepala sekolah dan guru kelas kami sebagai murid baru bernama Barry Soetoro dari Hawaii. Dia datang dengan mamanya yang seorang bule putih dan ayah tirinya Pak Soetoro yang berseragam Tentara Nasional Indonesia (TNI) hijau. Kita sempat bingung juga kok ada bule setengah negro. Tapi kita sebagai anak-anak tidak mempunyai interest untuk mencari tahu secara detil. Kita cuma beranggapan orang Hawaii seperti dia bentuk tubuhnya. Pada awalnya dia malu karena masih menyesuaikan diri. Saya bisa lihat dia sebenarnya anak mami. Itu terlihat sekali karena Barry awalnya malu bernyanyi dan malu berinteraksi. Dalam beberapa hal, dia mendapat satu pengecualian saat itu supaya betah dulu di kelas.
Apakah Barry lancar berbicara bahasa Indonesia?
Dia mengerti bahasa Indonesia. Di kelas kalau Pak guru berbicara terlalu cepat, ia akan bertanya apa maksudnya. Di kursi depan dia kebetulan ada Sandra Sambuaga dan sebelah kanannya ada Oetoyo Oesman, dia akan bertanya kalau tidak mengerti.
Terus terang saja SD Besuki itu sekolah elit di daerah Menteng, Jakarta Pusat dan saya mendengar banyak orang terkemuka di sana. Betulkah?
Iya, memang saat itu di sana banyak anak pejabat pemerintah, orang-orang middle class ke atas.
Jadi Barry sudah terbiasa dengan lingkungan yang middle class ke atas?
Iya betul. Jadi saat itu di kelas kita terdiri atas murid yang orang tuanya pejabat tinggi, pejabat pemerintah, businessman, dokter terkenal, dan bankir seperti Nyoman Moena yang anaknya sekolah di situ.
Sampai kapan Anda bersekolah di sana bersama Barack Obama?
Sejak tahun 1972 atau masuk kelas lima, saya sudah tidak pernah melihat lagi Barack Obama.
Kita ingin tahu iseng-iseng yang detil dari Barack Obama. Bagaimana Barry kalau pergi ke sekolah, apa kendaraan yang mengantarnya?
Pernah beberapa kali saya melihat dia dibonceng motor, kadang-kadang naik mobil, atau juga dititip dengan kawannya Hardi Surya yang sekarang di Bali. Paling sering diantar jemput pulang.
Apakah ibunya suka datang?
Suka. Saya bersahabat dengan Widianto teman sebangkunya. Saya suka mengajak Widianto dan Barry main ke rumah, tapi Barry selalu tidak bisa karena sepertinya dia harus pulang tepat waktu.
Wah anak mami dong?
Iya, karena itu saya menyebut dia anak mami.
Kalau jam istirahat, apa permainan dia?
Wah dia itu tidak bisa diam. Kita selalu main kalau jam istirahat, main petak gebok yang merupakan favoritnya, main gundu juga, gasing, dan mainan tradisional anak-anak saat itu.
Apakah dia kompetitif kalau bermain?
Dia selalu main fair dan tidak suka dicurangi.
Apakah dia suka berantem?
Dia tidak suka berantem. Dia memang terlihat berbadan bongsor, chubby begitu tapi hatinya baik.
Saya tertarik berbagai segi Barack Obama karena mengikuti dia dari berbagai publisitas. Katanya, dia dekat dengan ibunya yang remarkable woman dan sewaktu di konvensi Partai Demokrat juga diceritakan figur Ibu Obama. Bagaimana kesan Anda mengenai ibunya, Stanley Ann Dunham?
Dari awal kita melihat bahwa dia itu anak mami. Dia benar-benar seorang anak yang sempurna dibesarkan dengan banyak love and affection. Dia banyak tahu tentang Indonesia, itu berdasarkan yang saya baca dari buku terakhirnya. Dia cerita tentang Indonesia, dia pernah ke Bali. Dia mengatakan, "Saya takut negara ini menjadi negara asing karena sudah banyak berubah." Ternyata, ibunya sampai tahun 1983 masih tetap balik ke Indonesia. Sejak pisah dari bapaknya pada tahun 1972, ibunya mengunjungi Indonesia dalam rangka kerja di Indonesia untuk lembaga swadaya masyarakat (Non-Governmental Organization – NGO) yang dibiayai oleh USAID. Ibunya banyak membimbing ibu-ibu di desa untuk hidup lebih civilized.
Di masa itu dia juga pernah bekerja untuk Ford Foundation dan ikut mengurus lahirnya Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Dia memang sangat terlibat dalam kehidupan di Indonesia.
Betul, boleh dikatakan ibunya itu sangat pencinta Indonesia, negara kedua setelah negaranya. Stanley Ann Dunham mengajarkan wanita di Indonesia cara hidup yang benar, civilized, menyumbangkan mesin jahit, membimbing, dan lain-lain sampai dengan tahun 1983. Barry banyak di-update mengenai Indonesia oleh ibunya.
Walaupun dia tinggal di Hawaii dengan neneknya?
Nah, saya juga mengetahuinya setelah membaca bukunya bahwa dia mengetahui juga tentang Soeharto, dan lain-lain. Darimana dia tahu padahal dia sudah pergi dari Indonesia sejak tahun 1972? Jadi semua bisa melihat kalau inspirasi ibunya sangat kuat. Sewaktu dia berpidato di konvensi Partai Demokrat, pidatonya dikaitkan dengan pengalaman hidupnya. Misalnya, mengenai kesehatan terkait sewaktu ibunya terkena kanker, yaitu bagaimana asuransinya, bagaimana kebijakan pemerintah saat itu. Karena itu saya percaya pembentukan jiwa dia itu banyak karena pengalaman hidup. Seperti saya, pengalaman hidup saat itu banyak membentuk jiwa saya pada saat ini.
Kalau pembaca ingat, kita juga sewaktu umur 7 - 12 tahun barangkali merasa anak kecil tapi banyak sekali nilai kita yang terbentuk saat itu, apalagi urusan dengan sentimen segala macam. Mengapa di Amerika ini walau sekarang tidak terlalu tapi pada awalnya suka ada kampanye hitam mencoba menggambarkan Barack Obama sebagai orang yang ikut Islam radikal, atau paling tidak dibilang orang Islam karena nama tengahnya Husein sehingga dikatakan sama dengan Saddam Husein, padahal tidak ada hubungannya. Setahu saya, di Indonesia dia sebelum di sekolah dasar (SD) yang negeri tadi, dia bersekolah di sekolah Katolik. Lalu mengapa dia dikatakan ikut Islam radikal?
Sejak pamor Obama naik sehabis konvensi Partai Demokrat pada tahun 2004 datang beberapa orang ke Indonesia ingin mengetahui latar belakang dia. Mereka melihat sekolah kita ada mushollanya dan kalau hari Jumat yang muslim memakai peci. Padahal zaman saya, hal itu tidak begitu. Musholla itu baru dibangun tahun 2003. Di kelas Obama pada waktu itu ada yang dari Jawa sampai etnis Cina. Agama juga ada yang Konghucu, Budha, Katholik, Kristen, Islam, sampai Hindu pun ada yaitu anak Pak Nyoman Moena yang bankir. Dia belajar berinteraksi dari kecil sebenarnya. Dia bertanya sama kawan kita Sandra Sambuaga yang beragama kristen, "Sandra kok kamu sembahyangnya begitu? Islam kok begitu?"
Dia belum ada pengalaman agama langsung pada waktu itu karena memang ibunya tidak banyak menyampaikannya, bahkan ibunya tercatat sebagai orang yang punya believe, kemanusiaan yang universal, tapi tidak belong to any particular religion?
Pembentukan jiwa dia itu sangat bagus sekali, bukan karena sama dengan saya. Pada saat itu pendidikan di SD Besuki sangat bagus, benar-benar kebhinnekaan. Karena itu sampai sekarang saya memandang semua orang sama, walaupun sopir tapi bagi saya tidak ada bedanya dengan direktur advertising.
Saya kira-kiranya juga begitu karena kebetulan dulu tinggal di lingkungan dekat SD Besuki yaitu di jalan Cimahi, sedangkan sekolah saya di jalan Cilacap sehingga kira-kira sama lingkungannya. Apakah Obama juga membaca Pancasila dan ikut upacara bendera di sekolah?
Setiap hari Senin kita membaca Pancasila, berbaris masuk kelas. Barry pun ikut membacanya, dia mengetahui apa arti Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa maksudnya Tuhan itu hanya satu. Saya sebetulnya agak kaget dia mempunyai slogan: change, believe. Slogan itu menyangkut keadilan, kebhinnekaan, antara ras dan agama, keadilan politik bagi setiap bangsa. Itu ada di Pancasila kita yang setiap hari Senin dia baca.
Pembicaraan dengan Rully Dasaad mengenai Barack Obama ternyata bukan hanya cerita masa lalu, tapi banyak hal-hal yang saya kira menggelitik kita untuk menelusurinya. Misalnya, Barack Obama berada di Indonesia pada satu zaman dimana menjadi elit itu bukan menjadi suatu yang harus memberikan jarak pada orang lain. Di SD Besuki, anak orang kaya, anak pejabat itu tidak sombong, tidak bermusuhan. Semua rata. Juga pengertian agama yang berbeda, suku yang berbeda antara orang keturunan China dan Indonesia, menarik sekali. Kalau saya menjadi Anda tentu suatu saat ingin mengetahui sampai mana dia masih ingat Indonesia, apakah ada atau tidak keinginan untuk menyambung komunikasi lagi dengan Barack Obama?
Dia sudah mengetahuinya. Pada awal wartawan asing datang ke Indonesia dan bertanya soal dia, kita melihat kok ini ada unsur dipolitisasi, kok ada urusan agama, black campaign, dan ini sudah tidak lucu lagi, mencari sensasi. Sampai akhirnya saya menyadari dan mengatakan kepada teman-teman semua, "Ayo kita dukung dia, kita kumpul membuat solidarity action untuk dia, kita foto bersama dan dukung dia." Hasil foto itu dibuat sangat kreatif diproses secara digital imaging, jadi semua membawa album.
Kapan membuat foto itu?
Tanggal 1 Maret 2008.
Jadi sudah dengan teknologi yang sekarang?
Ya, saya mengirimkannya ke dia. Setelah lima minggu ada balasan email dari Executive Assistant Senator Obama di Senat Office Washington, namanya Ashley Tate Gilmore. Dia mengatakan, "Terima kasih dan saya akan sampaikan ini ke Senator Obama, please feel free to contact me if you have anything untuk disampaikan." Saya jawab lagi, "Ok Ashley thank you, saya mengetahui dia mempunyai kesibukan luar biasa, jadi whenever he has time...."
Pada saat ini saya yakin dia tidak akan menjawabnya sebab bukan hanya sibuk, tapi dia tidak mau memasukkan satu unsur baru yang bisa dikacaukan, jadi harus dikelola stafnya?
Iya, pernah ada satu orang di Jakarta yang membuat statement sangat berbahaya yang menyatakan dia (Obama) seorang devoted moslem, padahal orang ini tidak pernah bergaul dekat sama dia sewaktu kecil.
Jadi orang itu mengarang cerita?
Cuma kebetulan karena dia salah satu direktur BUMN sehingga sempat menjadi berita juga.
Tidak perlu kita sebut namanya. Kalau Anda ingin mengetahui namanya tanyakan langsung kepada Rully Dasaad. Itu sangat tidak bertanggung jawab. Saya kira kalau seorang seperti Barack Obama menjadi presiden di Amerika Serikat, kita tidak mengharapkan terlalu banyak, tapi tidak rugi, menurut Anda?
Paling tidak kita bisa berharap dia bisa membantu menjembatani dunia yang renggang ini, antara Timur Tengah, Asia, Amerika agar bisa ada keharmonisan.
Persis, sebab perpecahan di dunia ini banyak sekali diakibatkan leadership Amerika Serikat dalam delapan tahun terakhir ini. Jadi kalau mereka mempunyai orang yang liberal yang bebas maka itu bagus sekali.
Sangat bagus.
Apakah dirahasiakan atau tidak buku Anda itu?
Tidak. Bentuknya album foto, ada kata-katanya. Karena itu eksekutif asistennya mengatakan ini sangat thoughtful.
Berapa banyak jumlah fotonya?
Ada empat, besar-besar seperti album.
Saya sangat mendukung orang-orang seperti Anda, seperti Barack Obama, dan makin banyak orang mendapat berita positif maka makin sedikit black campaign bisa masuk. Apakah kalau Anda menjadi orang Amerika akan memilih Barack Obama?
Pasti, karena paham dia hampir sama seperti paham Pancasila. Bedanya Pak Wimar sudah mengetahui sendiri. Pancasila itu seharusnya juga lebih ditegakkan di bumi kita ini.
Apakah diantara sekian banyak teman-teman yang Anda sekarang suka ketemu ada yang skeptis terhadap Barack Obama?
Kita rata-rata bangga karena dia bagian dari hidup kita sewaktu kecil. Teman-teman dia itu kalau dihitung dari waktu bersekolah di SD sudah 38 tahun, namun sampai sekarang kita masih berkumpul seperti keluarga besar.
Itu agak aneh. Mengapa orang bisa reuni seperti itu?
Setahun kami tiga kali reuni, namun gara-gara Obama sekarang menjadi 25 kali.
Oh, sebelum Obama sudah tiga kali setahun?
Selalu. Kita mempunyai persaudaraan sangat kuat dengan teman-teman sewaktu di SD itu karena rumah kita berdekatan. Jadi kita sejak kecil selalu sama-sama ketemu.
Berbicara soal rumah berdekatan, apakah ada yang pernah datang ke rumah Obama?
Ada Sonny karena rumah dia di Dempo, dekat Taman Amir Hamzah. Dia suka bertanya ke Sonny biasanya soal pekerjaan rumah yang dia tidak mengerti. Kebetulan rumah Sonny dekat dengan Barry. Sonny itu keluarga Gondokoesoemo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar